Entri Populer

Senin, 22 November 2010

perbedaan mudof'ilahi dan muftada' khabar

A. MUDHAF ( مُضَاف ) dan MUDHAF ILAIH ( مُضَاف إِلَيْه )
Rangkaian dua buah Isim atau lebih, satu kata di depannya dalam keadaan Nakirah (tapi tanpa tanwin) dinamakan Mudhaf sedang kata yang paling belakang adalah Ma’rifah dinamakan Mudhaf Ilaih. 
Contoh:
  • بَيْتُ الْمُدَرِّسِ
  • (=buku guru)


  • بَيْتُ زَيْدٍ
  • (=rumah Zaid) –> Zaid = Isim ‘Alam (Ma’rifah)
  • مِفْتَاحُ بَيْتِ الْمُدَرِّسِ
  • (=kunci rumah guru)

Bila Mudhaf berupa Isim Mutsanna atau Jamak Mudzakkar Salim maka huruf Nun di akhirnya dihilangkan. Perhatikan contoh di bawah ini:
  • مُسْلِمَا الْجَاوِيِّ
  • (=dua muslim Jawa)

  • مُسْلِمُو الْجَاوِيِّ
  • (=muslimin Jawa)

مُسْلِمَا dari kata مُسْلِمَانِ (=dua orang muslim) –> Mutsanna
مُسْلِمُو dari kata مُسْلِمُوْنَ (=orang-orang muslim) –> Jamak Salim
Baik Shifat-Maushuf maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih, bukanlah merupakan sebuah JUMLAH MUFIDAH (جُمْلَة مُفِيْدَة) atau Kalimat Sempurna. Berikut ini kita akan mempelajari sebuah pola Jumlah Mufidah (Kalimat Sempurna). 

B. MUBTADA’ ( مُبْتَدَأ ) dan KHABAR ( خَبَر )
Sebuah JUMLAH ISMIYYAH (جُمْلَة اِسْمِيَّة) atau Kalimat Nominal (kalimat sempurna yang semua katanya adalah Isim), selalu terdiri dari dua bagian kalimat yakni Mubtada’ (Subjek) dan Khabar (Predikat). Pada umumnya seluruh Mubtada’ dalam keadaan Ma’rifah sedangkan seluruh Khabar (Predikat) dalam keadaan Nakirah. Perhatikan contoh kalimat-kalimat di bawah ini:
Jumlah Ismiyyah Mubtada’ Khabar
اَلْبَيْتُ كَبِيْر اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ
(=rumah itu besar)
(=rumah itu)
(=besar)
اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ غَالٌ
(=rumah yang besar itu mahal)
(=rumah yang besar itu)
(=mahal)
بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ بَيْتُ الْكَبِيْرِ جَمِيْلٌ
(=rumah besar itu indah) (=rumah besar itu) (= indah)
مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ مِفْتَاحُ بَيْتِ الْكَبِيْرِ صَغِيْرٌ
(=kunci rumah besar itu kecil) (=kunci rumah besar itu) (=kecil)
Dari contoh kalimat di atas diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
  • Baik Mubtada’ maupun Khabar, bisa terdiri dari satu kata ataupun lebih.
  • Mubtada’ pada umumnya selalu dalam keadaan Ma’rifah.
  • Khabar pada umumnya selalu dalam keadaan Nakirah.
  • Mubtada’ yang terdiri dari beberapa kata bisa merupakan Shifat-Maushuf (contoh kalimat II) maupun Mudhaf-Mudhaf Ilaih (contoh kalimat III dan IV)
Sebagai penutup, untuk mengingat-ingat perbedaan antara Shifat-Maushuf, Mudhaf-Mudhaf Ilaih dan Mubtada’-Khabar, perhatikanlah perbedaan bentuk dan makna masing-masing pola tersebut dalam kalimat sederhana di bawah ini:
  • Shifat-Maushuf

  • Mudhaf-Mudhaf Ilaih
  • Mubtada’-Khabar
  • بَيْتٌ جَدِيْد
  • بَيْتُ الْجَدِيْدِ
  • اَلْبَيْتُ جَدِيْدٌ
  • (sebuah rumah baru)
  • (rumah baru)
  • (rumah itu baru)
  • اَلْبَيْتُ الْكَبِيْرُ
  • بَيْتُ الْكَبِيْرِ
  • اَلْبَيْتُ كَبِيْرٌ
  • (rumah yang besar)
  • (rumah besar)
  • (rumah itu besar)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar